Balo Goal
Home » Cerita Sex Remaja » Cerita Sex Asmara Di Kaki Gunung Merapi

Cerita Sex Asmara Di Kaki Gunung Merapi

Cerita sex pacar, cerita dewasa remaja, cerita mesum abg, kisah seks 2016/2017 – Kejadian ini merupakan suatu kisah nyata kehidupan biruku beberapa tahun yg lalu, hampir setahun setelah lulus dari bangku SMA di Kota Magelang dan sedang menunggu panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.

cerita sex hot remajaCerita Sex Asmara Di Kaki Gunung Merapi

Cerita sex terbaru, Pagi itu, aku bangun dgn penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama mantan adik kelasku di SMA. Hari itu hari minggu. Namanya Fitri, dia seorang penyiar remaja yg cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu.

Dgn astrea grand ku warna hitam kesayangan, kujemput dia sekitar jam 9 pagi. Saat kebetulan sampai di sana Fitri memang baru menungguku. Sementara menunggu Fitri mandi, aku ngobrol-ngobrol dgn ibunya. O iya, si Fitri tinggal berdua dgn ibunya (dia panggil ibunya ’emak’)

Tak lama kemudian Fitri selesai mandi, ibunya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua, setelah Fitri berganti baju, adegan French Kiss mengalun begitu saja.

Singkat cerita, kayaknya kok tdk nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat utk jalan-jalan saja.

Cerita sex 2016/2017, Tepat jam 10, setelah sedikit berbasa-basi dgn ibunya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang.

Dan di sana kissing kita lanjutkan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank “Ameican style” gitu… Kita belum terpikir utk melakukan hubungan badan yg terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yg tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi langit terlihat cerah).

“Yank.., kayaknya mau hujan nih..”.

Fitri diam saja, Utk beberapa saat dia memandangi mukaku yg hancur seperti si Komar 4 sekawan itu. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Fitri tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yg terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

Tanpa banyak tanya, aku hidupkan lagi motorku yg sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dgn hujan yg sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa buah dada yg mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi sepeda motorku pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sdh deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Fitri memegar stang kiri.

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Change, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan.

Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur – Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami utk berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Fitri mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, Fitri tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dlm celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yg kami rasakan lumayanlah.

Bulu-bulunya terasa halus di ujung jariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian jg klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakangnya, sementara itu si ucok sdh tdk peduli terhadap cuaca yg lumayan dingin karena gerimis.

Lalu bagai tak sadar, tangan Fitri merayap ke belakang, mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yg kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…

Tak lama kemudian, kami putuskan utk tdk langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sdh menunjuk angka 2. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang – Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yg cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

Kupacu motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tdk akan menolak. Benih cinta itu kami rasakan sedang berkembang saat itu.

O Iya, sebelumnya kami sdh bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sdh tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dlm. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tp kami sdh tak peduli. Fitri masih melayg dgn kedua tangan di dlm celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara aku masih berjuang utk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayg, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayg terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yg dlm dgn panorama yg luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku utk menuju ka sana.

Sementara hujan akan segera mengucur…

Sampai di Kedung Kayg suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dgn apa yg baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis mulai hilang berganti hujan yang sangat deras, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami tdk tahu mau berkata apa, tetapi kami jg tdk merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipinya dgn beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dlm dada, entah di luar sana geledek yg lewat.

Seiring dgn beriramanya hujan yg makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama. Kurasakan tangannya mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Kuturunkan bibirku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dgn nafsu yg sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yg mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dgn derasnya bagai kesetanan.

Fitri sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dgn cepat kusambar lagi lehernya dgn nafsu yg tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya.

Irama hujan seolah menabuhi apa yg kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dgn alam Kedung Kayg yg angker keindahannya. Lalu dgn kasar kunaikkan t-shirtnya sampai ke lehernya, kupegang pantatnya dgn tangan kiriku kuremas-remas dgn gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yg kuangkat tadi. Kutemukan dua gundukan indah yg lebih ranum dari Merapi yg usianya sdh seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku.

Desahan-desahannya sdh tak kuhiraukan lagi. Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menygga beban berat tubuhnya yg disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susunya, kusedot-sedot dgn kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dgn kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sdh sampai di mana otaknya yg melayg. Aku masih tak perduli, sex is sex…

Kini badannya lemas tdk.., kakupun tdk, hanya kepasrahan saja yg kudapati di raut mukanya yg tak lagi manis itu dan tak lagi cantik itu karena mataku jg sdh khilaf.

Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dgn satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dgn nafas yg memburu, kulorotkan celananya sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dgn ganas memeknya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, dia melenguh di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang memeknya, kumasukkan dgn ganas, kuputar-putar jari tengahku di dlm memeknya yg sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dgn kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dgn penuh kenikmatan.

Akhirnya setelah orgasme yg kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan jg celana dlmku, dgn posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dgn galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dgn penuh nafsu kuarahkan moncong “hidung” pinokioku ke arah lubang sorganya. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya.

Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dgn sorot yg tak bisa kulukiskan dgn kata-kata, lalu dgn cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sdh tak ingin membuang waktu lagi. Dgn isyaratnya, kuhujamkan k0ntolku dgn agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dgn mulutku, tp kini kami tak perduli. Dgn saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit k0ntolku berhasil ditelan dgn mesra oleh memeknya. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dlm dada saat kurasakan memeknya bagaikan mulut bayi yg menghisap kempongnya dgn gemas.

Agak lama jg kami saling mengocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dgn di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan jg. Lalu hujan berhenti berganti dgn gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tdk datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

“Yank..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dgn mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah…. Ya, sore itu kami melepaskan keperawanan kami berdua. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul 5:15. Kami pulang dgn wajah sangat bahagia. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa dgn judul “Cerita Sex Asmara Di Kaki Gunung Merapi” dan foto hot terbaru 2016.