Balo Goal
Home » Cerita Sex Remaja » Cerita Sex Luka Dan Cinta

Cerita Sex Luka Dan Cinta

Orisex web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex Luka Dan Cinta”

cerita sex remajaCerita Sex Luka Dan Cinta

“In vijftien minuten, zullen wij bij Parijs aankomen..”

Cerita sex terbaru, Merinding bulu kuduk saya ketika tour guide mengumumkan dalam bahasa Belanda bahwa bus yg saya tumpangi akan tiba di tujuan dalam waktu 10 menit. Keletihan tubuh karena 8 jam duduk di bus dikalahkan oleh keinginan melihat kota yg begitu diagung-agungkan oleh para pecinta yg romantis: Paris!

Sebelumnya, sekalipun di dalam mimpi, saya tdk pernah membayangkan akan berada di sini. Krisis ekonomi di Indonesia yg meluluh-lantakkan karir dan kehidupan saya, ternyata membelokkan alur perjalanan hidup saya.

Saya mengalihkan pandangan saya keluar, terlihat beberapa pesawat di Charles de Gaulle airport. Tanpa saya sadari, mobil yg lalu lalang di highway A1 yg berawal dari Belgia ini bertambah banyak. Perhatian saya segera tertuju ke apartemen-apartemen yg kini berserakan di pinggiran highway. Tdk terlihat adanya perumahan, ciri khas kota metropolitan.

Erick, William, dan Agung teman kuliah saya yg berasal dari Singapore, Malaysia dan Indonesia juga terdiam menunggu tibanya bus tersebut di hotel yg akan didiami selama empat malam. Kemacetan di jalan raya semakin bertambah, apalagi ketika bus keluar dari highway dan menuju jalanan yg lebih kecil. Dengan tdk sabaran saya memperhatikan jam tangan saya yg sudah menunjukkan pukul 16:45. Di ufuk barat, mentari musim dingin mulai menyembunyikan dirinya.

“Come on, lets go out for nice dinner..” Erick yg sekamar dengan saya mengajak makan malam.

Memang, perut saya yg kosong sudah meminta sesuatu buat dicerna. Siraman air hangat sewaktu mandi menghilangkan keletihan tubuh saya dan mengantinya dengan perasaan lapar.

Berjalan kaki, kami menyusuri kota Paris. Kota ini begitu istimewa, keramaian dan kemacetan jalannya mengingatkan saya pada London. Tetapi design bangunan dengan ukiran dan patung-patungnya sangat mencolok dan berbeda. Hampir setiap bangunan mempunyai ciri khasnya masing-masing dan begitu indah.

Sebuah Chinese restaurant di Boulevard Montmarte menarik minat kami. Perut-perut yg keroncongan akhirnya berteriak kegirangan ketika nasi dan beberapa lauk menganjalnya. Memang perut Asia kami lebih menikmati nasi dibandingkan roti.

Dengan tambahan energy dari makanan, perjalanan menyusuri kota Paris dilanjutkan kembali. Di sepanjang jalan Boulevard Montmarte ini hadir toko yg banyak menjual parfum, pakaian dan makanan. Louis Vuitton, Giorgio Armani, Christian Dior, dsbnya seakan-akan berlomba memamerkan produk-produk terbarunya.

“Eh, Hard Rock CafE Paris!” seru William tiba-tiba,
“Lets have some drinks.”

Segelas Southern Comfort memberikan kehangatan kepada tubuh saya. Duduk berempat di café yg masih sepi, kami membicarakan keindahan kota yg menakjubkan ini.

Selesai minum, kami berjalan keluar melalui toko yg menjual sourvenir Hard Rock. Tertarik oleh kaos hitam special edition café tsb, saya mengantri di belakang dua orang cewek yg lumayan manis. Perhatian saya segera tertuju ke mereka ketika mereka mengobrol. Mereka menggunakan bahasa Indonesia! Aneh rasanya mendengar bahasa tersebut di tempat yg begitu jauh.

“Hallo, dari Indonesia ya?” sapa saya ramah.

Mata kedua gadis di depan saya terbelalak, kaget.

“Iiiyaa..” jawab gadis yg berdiri di depan saya. Tubuhnya yg kecil tertutup oleh jaket tebal berwarna hitam. Rambutnya yg pendek dicat merah dan matanya yg bulat terlihat jernih.

Perkenalan pun berlanjut, gadis tersebut bernama Marisa dan temannya bernama Elisabeth. Sungguh enak mengobrol menggunakan bahasa yg sudah lebih dari satu tahun tdk pernah saya pakai. Alangkah sayangnya, pertemuan sekitar 10 menit tersebut harus berakhir ketika mereka berjalan meninggalkan café tersebut bersama teman-teman mereka.
Entah karena suasana Paris yg romantis, atau kerinduan akan cewek setanah air, atau karena mata Marisa yg bulat dan jernih, jiwa saya seakan-akan terbang bersama mereka. Saya termenung melihat mereka menghilang di keramaian kota.

Bodoh! Goblok! Kenapa tdk meminta nomor telepon? Atau e-mail? Penyesalan datang melingkupi diri saya sesudah pertemuan tersebut. Perasaan menyesal ini semakin menggelora ketika keesokan harinya saya mengunjungi menara Eiffel. Seandainya saja saya bisa menikmati keromantisan kota Paris bersama Marisa. Seandainya..

Sang Pencipta ternyata mengasihani jiwa yg penat menahan dahaga kasih sayang ini. Di bawah Eiffel tower Sang Pencipta menunjukkan kekuasaannya. Marisa bersama temannya berdiri di salah satu kaki Eiffel Tower, menunggu kesempatan untuk naik ke menara tersebut. Kesempatan ini tdk kusia-siakan. Segera saya membeli empat tiket yg berharga total 180 franc dan ikutan mengantri.

“Marisa..” panggil saya,
“Ketemu lagi!”
“Ehh.. kamu..” dia kaget.

Tetapi dari sinar matanya saya tahu kalau dia juga merasa senang. Dan ini membuat jiwa saya melayg-layg.

Pembicaraan akrab berlanjut kembali. Marisa dan teman-temannya kuliah perhotelan di Switzerland. Dia sudah lebih dari 3 tahun di sana dan ini adalah tahun terakhirnya. Teman-temannya berasal dari sekolah yg sama, cuma beberapa dari mereka masih berada di tingkat pertama atau kedua.

Saya berusaha selalu berdekatan dengan Marisa, dan mengenalnya lebih jauh. Jangan mau kehilangan dia lagi.. bisik hati saya. Di lantai dua Eiffel Tower kami berfoto bersama. Saat mempunyai kesempatan berdua, saya berbisik di telinganya,

“Semalaman saya memikirkan kamu.” Matanya yg bening menatap saya dan dia berbisik lirih,
“Saya juga.” Ingin rasanya saya berteriak dan melompat kegirangan.
“On the romantic Seine’s river bank, the lovers go hand by hand.”

Perjalanan menggunakan kapal menyusuri sungai Seine melewati 22 jembatan merupakan pengalaman yg tdk terlupakan. Dari kapal yg kami tumpangi, kami bisa melihat pasangan yg sedang mabuk cinta bergandengan tangan dan berciuman di tepi sungai yg membelah kota Paris tersebut.

Bulu kuduk saya merinding ketika kami melewati gereja Notre Dame yg terkenal dengan cerita The Hunchback of Notre Dame-nya. Bangunan yg persis sama dengan bangunan di film kartun yg saya tonton. Di sebelah saya Marisa terlihat termenung, entah apa yg sedang dipikirkan.

“When you pass this oldest bridge in Paris, close your eyes and make your wish. It will come true.”

Saya menutup mata saya dan diam-diam menyatakan harapan saya. Marisa juga menutup matanya dan menyatakan harapannya. Seandainya saja saya tahu apa yg dia minta, akan saya penuhi apapun keinginannya.

Melalui jalan mendaki menuju gereja Sacre Coeur, saya mencoba memegang tangan Marisa yg tertutup sarung tangan merahnya. Dia tdk menolak! Di sebelah saya Erick terlihat akrab dengan Elisabeth. Mereka bercanda dengan mesranya. Memang, di kota ini cinta mudah sekali bersemi.

Jam baru menunjukkan pukul 17:30, namun mentari sudah bersembunyi di peraduannya. Dari halaman gereja berwarna putih yg terletak di atas bukit ini, saya kehilangan kata-kata saya. Di depan saya terpampang kota Paris dengan lampu-lampunya yg berwarna-warni, begitu menakjubkan. Dari kejauhan terlihat Eiffel Tower yg terang benderang. Saya memberanikan diri untuk memeluk tubuh Marisa. Pelukan yg tdk saya lepaskan sampai kami kembali ke kamar hotel mereka.

Saya berbaring di kasur sambil melanjutkan pelukan saya. Lengan Marisa melingkari leher saya dan kepalanya menyender di dada saya. Di kasur sebelah saya Erick dan Elisabeth sedang bercanda mesra.

Kekuatan cinta saya membuat saya berani mencium pipinya, tanpa mempedulikan Erick dan Elisabeth. Marisa cuma tersenyum misterius. Ciuman saya kemudian berlanjut ke bibirnya yg merah merekah. Terasa bibirnya yg sedikit kering karena dinginnya angin musim dingin.

Kegilaan kami bertambah ketika Elisabeth memadamkan lampu kamar. Dari sinar yg masuk lewat jendela, saya bisa melihat mata Marisa yg sendu. Seperti magnet, bibir saya kembali tertarik ke bibirnya, saling berpagutan dengan mesranya. Perlahan Marisa menarik selimut menutupi tubuhnya. Saya menganggap tindakan dia sebagai undangan untuk melakukan hal yg lebih jauh. Saya ikutan menyusup ke dalam selimut.

Jari-jari tangan saya mulai bergerilya menyusuri sepasang gunung Marisa yg masih tertutup sweater. Usaha mencari puncak gunung tersebut agak terganjal oleh tebalnya sweater dan bra yg masih dikenakannya. Namun kekenyalan gunung tersebut membuat tangan saya betah bermain di sana, meremas dan meremas.

Kemudian tangan saya menyusup ke balik sweaternya dan menyusuri kulit perutnya yg mulus menuju dadanya. Dengan lincah jari tangan saya menyusup ke branya. Ketika ujung gunung kembarnya tersentuh, tanpa ampun jari-jari tangan saya bermain di sana. baca cerita sex lainya di seksigo.com

Jari tangan Marisa ternyata tdk tinggal diam. Kedua tangannya beralih ke ikat pinggang saya dan berjuang melepasnya. Jari tangannya yg cekatan berhasil melepas ikat pinggang saya diikuti celana jeans dan celana dalam saya. Ketika terlepas, saya menendang celana tersebut keluar. Batang kemaluan saya yg terkekang berjam-jam segera berontak menunjukkan kekuatannya.

Belaian tangan Marisa membuat batang tersebut mencapai kekerasan dan ukuran maksimumnya. Tdk sabar, Marisa membuka sendiri celana jeans dan celana dalamnya. Sesudah itu dia berbaring membelakangi saya, sepasang pinggul montok dan mulus menekan batang kemaluan saya, menaNtang dia untuk bertindak lebih lanjut.

Dengan tubuh masih tertutup selimut, jari tangan saya menuju daerah kemaluannya. Terasa oleh tangan saya rambut yg keras dan pendek. Rupanya rambut tersebut dicukur! Jari tangan saya akhirnya bermain di daerah klirotisnya, memutar dan kadang menggosok dengan cepat. Sekali-kali jari tangan saya masuk ke dalam liang kewanitaannya yg sudah basah oleh cairan kewanitaannya.

Mata saya beralih sebentar ke kasur sebelah. Erick dan Elisabeth rupanya tdk mau kalah, terlihat tubuh mereka yg juga tertutup selimut saling menindih.

Akhirnya saya menggerakkan batang kemaluan saya yg sudah tdk sabar menuju rongga fovaritnya. Dari belakang saya mencoba memasukkan batang tersebut, lumayan susah. Dengan tuntunan tangan Marisa, akhirnya batang tersebut berhasil menyusuri goa kewanitaannya yg sudah basah kuyub. Cengkraman otot liang kewanitaan Marisa pada batang kemaluan saya membuat saya memejamkan mata. Saya menggerakkan batang kemaluan saya, keluar masuk, keluar masuk. Jari tangan saya masih bermain di daerah klitorisnya.

“Ahh..” terdengar desahan Erick. Rupanya dia sudah mencapai pulau kenikmatan bersama Elisabeth.

Sekitar 5 menit kemudian, Marisa menjerit histeris tanpa mempedulikan kehadiran Erick dan Elisabeth di ruangan tersebut. Satu badai kenikmatan sudah dilalui.

“Kamu di atas ya..” bisik Marisa dengan nafas terengah-engah.

Saya mengambil posisi di atas, Marisa dan kembali memasukkan batang kesayangan saya. Kegiatan keluar masuk yg tdk pernah membosankan tersebut kembali berlanjut. Goyangan pinggul Marisa menambah kenikmatan yg saya rasakan. Tanpa kami sadari, selimut yg menutupi tubuh kami terbuka memamerkan kekekaran tubuh saya dan sepasang buah dada Marisa yg menjulang indah. Saya membungkukkan tubuh berusaha menjangkau puncak gunung tersebut dengan lidah saya. Karena tubuh saya yg jauh lebih tinggi, saya tdk berhasil melakukannya.

Tiba-tiba terasa ada kepala di samping saya. Saya tercegang, rupanya Elisabeth sudah berdiri di sebelah tubuh Marisa. Matanya yg sayu menatap wajah Marisa. Perlahan dia mendorong tubuh saya ke atas dan dia menggerakkan mulutnya yg munggil ke gunung kembar Marisa. Dia menjulurkan lidahnya dan bermain di sana. Marisa membuka matanya yg tersenyum. Dia membelai rambut Elisabeth!

Gila! Kata pertama yg melintas di kepala saya.
Peduli Amat! Kata kedua yg membuat saya memutuskan untuk jalan terus.

Saya memperbaiki posisi saya, tangan saya menahan sepasang kaki Marisa yg tertekuk membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhnya dan dengan posisi berlutut saya memasukkan batang kemaluan saya setelah sebelumnya menganjal pinggulnya dengan bantal.

Selanjutnya hujaman batang kemaluan saya semakin ganas, sementara lidah Elisabeth masih bermain di dada Marisa. Tdk terlukiskan dengan kata teriakan histeris Marisa saat itu. Teriakan Marisa, pemandangan lidah Elisabeth yg sedang bermain di buah dadanya Marisa, dan perasaan sayang yg menggebu-gebu membuat saya tdk bisa bertahan lama walaupun segala teknik menahan ejakulasi sudah saya keluarkan. Akhirnya batang kemaluan saya menumpahkan cairan putihnya di dalam tubuh Marisa.

Tetesan air mata mengantar perpisahan kami berpisah di tanggal 30 Desember 2000. Saya kembali ke Amsterdam dan dia kembali ke Swiss. Sampai saat ini, harapan saya saat melewati jembatan tertua di kota Paris tdk terpenuhi. Sebenarnya harapan saya adalah, “Hidup berbahagia bersama Marisa selamanya!”

“Saya tdk pernah bisa mempercayai lelaki kembali. Tiga tahun lalu di sini, Paris, saya menyerahkan milik saya yg paling berharga kepada pria yg sangat saya sayangi. Ternyata dia penipu, dia sudah beristeri. Luka tersebut meninggalkan bekas yg sangat dalam dan tdk ada satu lelakipun yg bisa menyembuhkannya, saya berbahagia bisa bertemu dengan kamu.”

“Marisa.. Marisa.. mengapa kamu tdk mau memberikan kesempatan kepada saya? Akan saya buktikan bahwa tdk semua lelaki itu bangsat! Cinta memang mengakibatkan luka, namun luka tersebut hanya bisa disembuhkan kembali oleh cinta.” Cuma itulah yg bisa ucapkan ketika membaca mail terakhirnya. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa terbaru 2016