vimax obat pembesar penis
Poker Online Terbesar di Indonesia iboqq-728x90
vimax-asli-canada
Agen Poker Online Terbaik Bandar Q

vimax
resizedimage-phpayoqq resizedimage-phpagenqq
Home » Cerita Sex Istri » Cerita Sex Istriku Ditiduri Pakdeku

Cerita Sex Istriku Ditiduri Pakdeku

Alt/Text Gambar resizedimage.php

Orisex web dewasa yang berisikan cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex Istriku Ditiduri Pakdeku” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

Cerita Sex Selingkuh
Cerita Sex Istriku Ditiduri Pakdeku

Cerita Sex Terbaru | Tdk mudah bisa bertahan hidup di Jakarta apabila seseorang tdk memiliki kepandaian, stamina dan daya tahan terhadap berbagai tekanan dan kesulitan. Dan itu semakin aku rasakan. Sejak 3 tahun terakhir aku bersama istri yg baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, Yogya, menuju ibukota Jakarta untuk mencari kehidupan yg lebih baik. Hingga kini kehidupan yg lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.

Aku mau dan pernah melakukan semua pekerjaan sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, tukang ojek, tukang batu atau pekerjaan lainnya yg sesuai dengan apa yg aku bisa. Tetapi itu semua nampaknya belum menjanjikan masa depan yg lebih baik.

Kebetulan ada sodara jauhku, Pakde Joko yg telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yg cukup mapan. Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok ‘gurem’ nampaknya membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Joko selalu menjadi tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yg masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tdk mau mengajak aku kerja di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.

Hanya satu hal yg aku kurang sreg dengan Pakde Joko. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tdk ijinkan aku ke kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon, nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia juga bawa oleh-oleh untuk Dewi, istriku.

Selama berada di rumah kuperhatikan matanya yg selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde Joko ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia tdk pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut ‘ya, ya, ya’ tanpa pernah lepas dari pandangan ke Dewi dan sama sekali tak pernah melihat padaku. Terus terang kalau tdk terpaksa aku segan berhubungan dengan Pakde Joko ini.

Dari sudut fisik, Pakde Joko ini memang masih gagah. Pada umurnya yg memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yg memang cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu. Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur. Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Joko suka mencicipi berbagai macam perempuan dan tdk kesulitan untuk mendapatkan ‘daun-daun muda’.

Akan halnya Dewi, istriku, dia adalah gadis idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku bangga dapat dia yg hitam manis dan paling ‘macan’, begitu teman-teman menyebut ‘manis dan cantik’ untuk Dewiku ini. Dengan tingginya yg 170 cm, dia termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar sekolah Dewi selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yg naksir berat padanya. Walau Dewi pernah juga mendapatkan julukan ‘piala bergilir’, aku tdk merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yg bisa menggandengnya ke pelaminan.

Sesudah melewati tahun pertama pernikahan, kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual. Secara sederhana, Dewi orangnya ‘hot’ banget, sementara aku mungkin ‘cool’ banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk memenuhi keinginannya Dewi memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat. Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tdk berlangsung lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.

Walaupun belum mempunyai anak, karena kami sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Dewi tdk kekurangan kesibukkan. Dia sering menerima pesanan ‘caterring’ dari teman atau tetangga untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.

Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap Pakde Joko. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan sikap sopan sebagai keponakan mantu.

Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yg biasa disebut ‘t0gel’. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar 16 juta rupiah kontan dari situs t0gel online. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang t0gel, Dewi marah dan sangat tdk setuju.

Tetapi sesudah aku berusaha menenangkannya akhirnya dia tdk lagi menentang walaupun tdk sepenuhnya menerima gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yg kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 10 juta rupiah dari kemenangan 2D yg kupasang Rp. 100.000 dan juga colok jitu sebesar Rp. 500.000 di situs t0gel online. Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Dewi. Ternyata istriku ini menerimanya dengan dingin. Hal itu membuatku marah dan sangat amat kecewa karena uang yg kudapatkan susah-susah malah tdk diterima dengan gembira.

Akhirnya karena kekecewaanku pada istriku saat aku menang t0gel lagi dari situs judi online MarkasBetting.com akupun mencoba untuk melakukan perselingkuhan dengan ke sebuah tempat prostitusi di sebuah kota besar di jawa timur. Sebenarnya dalam permainan t0gel di online aku memperoleh banyak kemenangan, tapi karena kecewa berat dengan istriku lambat laun kemampuan asahku tentang menebak angka t0gel makin menurun, sementara uang kemenangan puluhan juta dari t0gel dalam 1 bulan dihabiskan oleh simpananku seorang psk cantik di sebuah tempat prostitusi ternama.

Karena cadangan uang yg menipis dan uang itu harus kubagikan kepada 2 wanita akhirnya akupun bangkrut dan kehabisan modal untuk main. Padahal aku dalam 1 bulan dalam bermain judi bola dan judi t0gel online di situs judi MarkasBetting.com dapat menarik kemenangan sampe 50 juta rupiah dengan modal kurang lebih hanya Rp. 5.000.000. Gaya hidup foya-foya saat menang dan kekecewaan pada istriku membuat semua kemenanganku sia-sia.

Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Joko untuk pinjam uang. Setelah berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Joko datang ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer t0gel penting yg kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Joko menyerahkan uangnya ke istriku Dewi. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yg penting duitnya cepet turun.

Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang yg selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku yg untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat bergerilya.

Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde Joko di rumah bersama Dewi istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah Pakde yg langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yg kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar t0gel dan memasang nomer pilihan.

Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang t0gel juga merupakan usaha yg bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yg kubawa kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada Pakde dan sisanya yg masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.

Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir ini. Nomer t0gel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Dewi selalu marah-marah dan semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Joko sudah tak terhitung lagi. Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Joko pasti akan terus mengejarku hingga uangnya bisa kembali.

Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,
“Datanglah ke kantor. Jangan khawatir. Ada jalan keluar yg sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini. Pakdemu.”
Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau membantu keponakannya yg sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku. Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.

Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yg nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan wajahnya yg sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati korbannya. Dengan pandangan matanya yg bak elang siap mencabik-cabik mangsanya Pakde berbicara dengan garang,

“Begini Sandi. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa membayar hutangmu yg hingga saat ini telah mencapai lebih dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu pilihan yg menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain,” dia mengakhiri omongannya sambil melirik ke Satpamnya.

Dalam keadaan yg sangat putus asa mana mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde Joko ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan menyetujuinya yg penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.

Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau dia boleh mengajak isterku Dewi ke villanya. Kalau aku tdk setuju mesti melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.

Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur bersama Dewi selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani kebutuhan Pakde bersama Dewi istriku selama di sana.

Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan Dewi. Kami harus berlagak sebagai suami istri yg datang dan menginap di villa itu. Pakde Joko akan datang sendirian menjelang sore hari yg akan berlagak seolah-olah sebagai tamu kami.

Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak beberapa saat. Pakde Joko tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah dan secarik surat,

“Sandi, besok mobil menjemput kamu bersama Dewi, jam 7 pagi. OK?! Pakdemu.”
“Bajingan..!”

Aku tak melihat jalan keluar. Dengan sebelumnya aku minta maaf yg sebesar-besarnya, dengan susah payah aku sampaikan keinginan Pakde Joko. Istriku Dewi menerima amplop Pakde Joko menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu sangat menyakitkan. Aku juga langsung membaygkan Pakde akan menjamahi bagian-bagian tubuhnya yg indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!

Selesai aku bicara Dewi rubuh ke lantai. Ah, kasihan kamu Dewi.. Kamu jadi korban ketdk mampuanku. Aku gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah suami yg pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci. Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tdk ingin aku mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Dewi saat ini sangat memandang aku dengan penuh kehinaan.

Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Dewi, yg pacarku waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yg lain. Waktu itu aku selalu berpikir positip.

Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Dewi akan tetap kembali ke aku. Dan itulah yg kemudian terjadi. Dialah yg kini menjadi Dewi Sandi, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yg kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde Sastro bersama Dewi istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.

Dan besok, aku bersama Dewi harus telah siap saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yg campur aduk, harapanku tetap pada Dewi. Harapanku Dewi bisa memahami kondisi ini. Dan Dewi siap untuk melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.

Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa yg mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.

Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku langsung bergegas ke bandar t0gel.

Cerita Dewi Sang Istri

Masa sekolah adalah masa yg paling menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta. Sebagai gadis remaja yg menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yg sedang mekar, kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi maduku.

Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yg 170 cm aku diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali ‘macan’ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yg mereka artikan sebagai manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun yg berusaha mendekati aku.

Beberapa pria memang memberikan kesenangan padaku. Aku pikir tdk salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Ditto yg anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya yg tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yg paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yg menjadi pria pertama yg berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku.

Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yg di tengah samudra. Anak ikan paus langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.

Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yg jangkung itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini. Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai k0ntol lelaki jangkung yg dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yg pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan dengan dia.

Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yg tdk jauh dari kotaku. Sesudah menelusuri pantainya yg sangat indah kami beristirahat di tempat yg sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yg cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tdk tahu kenapa nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah celananya.

Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih k0ntol itu. Woow.. gede banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yg keras kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara yg sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.

Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum k0ntolnya. Air maninya yg kental keluar dari setiap denyutan k0ntolnya. Karena dorongan birahiku, aku juga menjilati yg tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku pergi.

Kuperhatikan teman-teman pria itu gede cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tdk mereka, ya aku yg meninggalkannya untuk pergi ke pria lain.

Akhirnya aku menikah dengan Mas Sandi. Ternyata lelaki macam dialah yg bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku tahu Sandi telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga atau acara antar siwa lainnya.

Sandi memang sabar dan penuh toleransi. Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yg lain Sandi tdk merubah sikapnya padaku. Sandi juga selalu jadi terminal dan tempat aku mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar mendengarkan aku dan pada sikapku yg labil. Aku merasakan libidoku kelewat panas. Aku tdk hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Sandilah akhirnya yg selalu mengisi kekosonganku.

Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tdk takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tdk khawatir dengan Sandi yg selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan.

Yg kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk dengan lotere buntut atau t0gel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Baygkan saja, mandi saja rasanya tdk sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode. Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yg kebetulan melintas di depannya.

Itulah Sandi hari ini. Dalam tempo pendek dia terlibat hutang yg besar. Pakde Joko adalah Pakde sepupunya yg kebetulan punya usaha yg cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Sandi minta pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain t0gel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah, bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tdk mau memberikan pinjaman lagi. Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Sandi yg selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.

Tadi pagi orang suruhannya kembali datang membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Joko akan memberikan jalan keluar yg sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir, begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Sandi dimintanya untuk membantu pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya. Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan Mas Sandi, terserah mau datang atau tdk. Aku memang agak ketus. Soalnya aku sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tdk suka judi.

Akan halnya Pakde Joko, aku memahami sifatnya sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya uang, dan tampangnya juga ‘handsome’ kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu. Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Joko. Dan aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku.

Dari pandangan matanya kurasakan betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Sandi suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yg nampak matanya rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu yg seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.

Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Sandi suamiku berterus terang tdk bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membaygkan lelaki lain atau semacam Pakde Joko yg mampu memberikan kehangatan semacam itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku. Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari k0ntol Pandi yg membasahi mulutku. Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?

Memang Pakde Joko tdk lagi pantas menjadi panutan Mas Sandi sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yg semestinya urusannya sama Mas Sandi, Pakde justru mengumbar matanya seakan hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Sandi menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.

Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas Sandi untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Sandi yg sedang kegilaan sama t0gel pergi ke bandar t0gel untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan aku yg hanya bersama Pakde Joko. Tentu saja Pakde langsung menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.

Dengan gaya seolah-olah orang tua yg melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,

“Dewi, kalau kamu punya masalah biar Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu”.

Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya yg nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya dan memberikan kepadaku amplop besar,

“Ini buat kamu sayang. Jangan kasih Sandi. Nanti buat judi lagi.”

Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,

“Terima kasih,” ucapku pelan yg dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian menariknya untuk mencium bibirku.

Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tdk bisa berkutik didepan Pakde Joko ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.

Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Sandi sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan segelas air putih yg langsung diminumnya habis. Dia belum juga ngomong. Diserahkannya padaku amplop yg penuh. Loh, kok dapat malahan uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.

Pakde Joko akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyg-goygkan tubuh Mas Sandi. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang Pakde Joko akan caranya yg demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!

Tetapi yg sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Sandi sendiri. Dia sama sekali tdk menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia menerima amplop berisi uang yg kini ditanganku berarti dia benar-benar telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutang-hutangnya dengan sama sekali tdk membicarakannya padaku terlebih dahulu.

Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada seorangpun yg melindungiku. Fungsi Mas Sandi sebagai suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku lagi.

Kurasakan tangan Mas Sandi menarikku bangkit. Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang. Ketukan pintu yg bertubi-tubi dari Mas Sandi tak kudengarkan. Kini yg hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam.

Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketdk mampuan dan segala kelamahan yg aku alami. Kepada sikap suamiku yg bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Joko itu yg jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tdk keluar dari kamar. Pikiranku terus melayg-layg memikirkan banyak hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yg begitu gelap dan mendung.

Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas Sandi. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya tinggal separuh.

Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar t0gelnyaa..!! Edaann..!!

Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yg mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yg sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.

Sikap itu langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yg harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Sandi. Yg ada hanyalah aku yg sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa yg mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yg selama ini tak sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Sandi bahwa aku kini bebas se-bebas-bebasnya.

Cerita Pakde Joko

Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yg kalau aku turun di terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yg kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.

Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.

Jakarta memang memberi apa yg kuminta. Usahaku yg menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.

Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini sudah menjadi orang yg pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan ‘den Joko’. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.

Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan uang yg kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.

Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yg kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yg memiliki tampang dan seksualitas yg lumayan.

Saat ini aku lagi kesengsem sama Dewi istri Sandi keponakan sepupuku. Pada awalnya Sandi menemuiku di kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Dewi.

Isteri Sandi ini benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan macam Dewi ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit yg coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yg bidang indah itu, aku pastikan Sandi kewalahan menghadapi birahinya Dewi. Lihat, betisnya itu. Betis yg ‘merit’ bak padi Cianjur yg matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.

Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku langsung bertekad. Wi, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Sandi, karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Dewi.

Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yg dari berbagai daerah gencar banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yg kejam. Aku kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.

Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang salah satunya adalah Sandi. Ternyata pinjaman Sandi padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Sandi melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yg bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?

Bukankah ada Dewi istrinya yg sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Dewi barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Sandi dan mengajukan surat tagihannya.

Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Sandi aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tdk dihargai. Setdk-tdknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Sandi ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.

Kesimpulanku akhirnya, bahwa Sandi tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yg besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Sandi yg memang dasarnya pemalas itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus dapatkan pengganti yg kira-kira nilainya sepadan. Dewi, istrinya!

Kini Sandi tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Dewi. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Sandi, serahkan saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yg sama-sama menguntungkan, tulisku.

Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yg sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Sandi langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yg penting dia ingin lekas terbebas dari hutang-hutangnya yg menumpuk itu.

Aku langsung baygkan bahu bidangnya Dewi. Juga betisnya yg bak beras Cianjur yg matang itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Sandi, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Dewi ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas pelayanku yg kusuruh pulang selama aku bersama Dewi di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tdk melihat apa yg kuperbuat dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yg tdk bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.

Aku belum selesai bicara saat kulihat Sandi nampak limbung dengan cahaya matanya yg layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Dewi bersama dia telah siap aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tdk ada reaksi penolakkan dari Sandi. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan mengenai Dewi. Aku yakin Dewi tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari yg lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tdk menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora birahiku yg langsung menyala.

Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi

Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yg berdernyit berhenti di depan rumah keluarga Sandi. Seorang sopir yg amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yg rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tdk terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yg telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Sandi sang tuan dan Dewi sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Dewi mau Sandi duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula Sandi menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami istri yg akan memakai villanya.

Tetapi melihat kukuhnya Dewi akhirnya Sandi mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tdk banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Sandi ngomong sama sopir mengenai apa yg nampak sepanjang perjalanan. Adapun Dewi kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia yg telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yg bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yg terbaik bagi dirinya.

Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan dendam kepada siapapun teristimewa kepada Sandi. Yg dia inginkan sekarang adalah menunjukkan kepada Sandi bahwa dia berbuat apapun yg bisa dia perbuat sesuai keinginan hatinya.

Sandi yg tadi malam baru pulang jam 11 malam untuk menunggu keluarnya nomer t0gel tdk memahami apa yg tengah berkecamuk pada diri istrinya Dewi. Yg dia simpulkan hanya bahwa Dewi ternyata mau menerima apa yg menjadi keputusan Pakde Joko. Dan itu artinya dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya pada Pakde Joko. Dia sudah tdk lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan yg lain. Memang Sandi termasuk lelaki yg paling mudah menyerah. Dengan sikapnya yg sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu antara orang sabar dengan pikiran positif yg sejati versus orang yg memang tdk memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup macam si Sandi ini.

Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro ini relatip kecil dibandingkan halamannya yg hampir seluar 2 hektar itu. Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yg besar lengkap dengan kamar mandi di dalam dan yg lainnya lebih kecil. Ada dapur yg lengkap dan ruang tamu berikut perabotannya yg sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yg asri lengkap dengan kali kecil yg mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke belakang hutan pakis dan pinus yg bersuasana sangat alami. Kesejukkan pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat bagi mereka pasangan yg sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa bersama amplop surat Pakde Joko khusus untuk Dewi dan bungkusan besar berisi makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.

Sepulang Pak sopir, Dewi cepat membuka surat itu. Sandi tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke beranda. Pakde bilang agar Dewi menempati kamar utama yg besar, dan Sandi memasuki kamar di sebelahnya yg kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore, karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Dewi kemudian menyerahkan surat itu kepada Sandi agar tahu apa yg dimaui Pakdenya. Dengan membanting pintu dan menguncinya Dewi memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde Joko. Dan Sandi langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.

Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya.. Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yg memberikan pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Dewi mengamati interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yg beralaskan sutra dia dapati vas besar dengan kembang mawar merah yg segar. Haahh.. tentunya sesorang telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yg, siapa tahu, nginap disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta. Ah.. ada surat kecilnya..

“Dewi sayangku.. aku mencintaimu .. Joko.”

Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yg sangat mahal itu? Sangat romantis. Dewi sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar bulusnya Pakde Joko ini.

Dewi ingin tahu lebih banyak lagi apa yg telah diperbuat Pakde Joko. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yg juga siap pakai. Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yg belum pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes, Wi. Semua busana-busana itu dalam ukuran yg sungguh tepat untuk tubuhnya. Bukan main Pakde ini.

Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Dewi menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yg bermacam dalam lemari itu.

Sementara itu Sandi memasuki kamarnya. Tdk ada yg istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yg biasa dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei yg sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi yg semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Dewi berada. Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yg justru menghadap ke arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yg melintas. Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yg menjadi batas kamarnya dengan kamar Dewi.

Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya yg artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Dewi, dong. Sedang apa dia?

Dan itu yg kemudian dilakukan Sandi. Dan, ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya dengan busana-busana indah yg pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik istriku Dewi, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan istrinya. Dan Sandi tahu banyak lelaki yg kepingin bisa tidur dengan Dewi.

Kemudian dia membaygkan sesaat nanti akan menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Joko si bandot tua itu melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!

Tiba-tiba kembali Sandi disergap rasa sakit dan cemburu yg menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan Dewi dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam rengkuhan penuh birahi Pakde Joko yg juga akan sama-sama telanjang. Tiddaakk..!!

Sandi kepingin membenturkan kepalanya ke dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan juga pengorbanan istrinya hutangnya yg kini mencekik lehernya itu akan lunas? Bukankah dia akan terlepas dari beban yg tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya tdk lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yg mesti aku terima kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tdk murah. Baygkan hutang yg lebih dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki Dewi untuk selamanya? Hanya 3 hari, San!

Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan. Tiba-tiba dia merasakan hal yg aneh pada dirinya..

Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Sandi ngaceng saat membaygkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membaygkan bagaimana nanti saat Dewi menerima kenikmatan syahwat yg dilepaskan oleh Pakdenya.

Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Dewi sekaligus nafas-nafas yg memburu dari Pakde Joko. Bagaimana nanti tubuh telanjang Dewi bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yg melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yg dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding memek Dewi dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.

Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Sandi langsung lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar baygannya sendiri. Dia menghambur ke taman dimana ada kali kecil yg mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.

Hingga Pakde Joko datang Dewi tdk pernah keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Sandi dan Dewi sebagai suami isteri. Nampaknya Dewi memang menghindar dari kemungkinan dialog itu. Dewi pasti kecewa padaku, demikian pikir Sandi. Ah biarlah, yg penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Baygkan seandainya Dewi menolak, apa yg akan menimpa dirinya nanti. Dia baygkan Satpam Pakdenya yg kekar berotot itu.

Pakde Joko datang lebih lambat dari janjinya disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu mobilnya memasuki halaman Pakde Joko turun dan melemparkan kuncinya kepada Sandi yg telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti pelayannya. Kini dialah yg harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah perjalanan yg penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.

Dari dalam rumah nampak Dewi yg istrinya memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan Dewi pada Sandi. Dewi akhirnya bisa menerima apa yg kini harus dilakukan suaminya. Suatu imbalan yg setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Sandi bahwa kini dia bulan Dewi yg dulu. Dia kini adalah Dewi yg bebas dan merdeka yg bisa mengambil keputusan apapun yg dia mau.

Begitu Pakde Joko memasuki teras rumahnya, secara menyolok didepan suaminya Dewi keluar dari dalam untuk menyongsongnya. Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Joko memasuki villanya. Sandi hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Dewi, lihatlah, dia seperti dewi dari surga. Dewi mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk menyambut Pakde. Dia memakai busana yg paling sensual. Nampak dari bahu dan dadanya yg setengah terbuka. Bahunya yg bidang itu menyajikan pesona sebersit ketiaknya sedemikian sensual.

Pakde Joko terpana. Dia tdk menduga bahwa Dewi sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Dewi ini. Ada apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Dewi pada Sandi suaminya? Ah, .. Pakde Joko tak sempat berpikir jauh. Parfum Dewi telah menyeret naluri syahwatnya terbang ke-awang-awang. Dewi langsung menggelandang Pakde menuju kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut rangkulan Dewi pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Dewi.

Mereka kini saling berpagut. Kehausan bertahun-tahun Pakde Joko pada Dewi kini tertumpahkan. Dan bagi Dewi inilah puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada kehidupannya yg telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya. Dia terus berusaha menapaki kehidupan yg baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Joko. Dia ingin selekasnya menjamah khayalannya. Dia ingin merasakan apa yg pernah dia rasakan dulu bersama Pandi di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yg akan mengiringi pelampiasan syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Dewi dan kehausan syahwat yg amat sangat Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.

Akan halnya Sandi yg telah siap menerima apapun yg harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan ikut menikmati apa yg terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan menyaksikan adegan-adegan yg pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yg menyakitkan.

Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Sandi kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Dewi isterinya. Nafasnya terdengar memburu sejalan dengan apa yg dia saksikan melalui celah dinding papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu. Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam kemaluannya yg gede panjang itu.

“Edan, k0ntol Pakde itu.. k0ntol kuda.., Duh k0ntol Pakdee.. k0ntol ituu..,” teriakkan histeris dari hati Sandi melihat kemaluan Pakdenya yg membuatnya terpana.

Dia benar-benar terpesona dengan k0ntol Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yg biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu kini menguruti batang k0ntol yg berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Dewi menggeliat dan mendesah hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.

Blusnya sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Joko. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yg sangat ranum itu.

Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yg lengkap dengan dasinya yg setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde Joko menindih Dewi. Ditelentangkannya kedua lengan Dewi ke atas hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Joko menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Dewi. Dewi mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.

Dan kini Sandi melihat mereka sambil mulai mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde yg turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Dewi isterinya itu.

Sandi agak kesal, posisi Pakde Joko yg mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit. Yg jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat. Betapa rintihan Dewi dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yg tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Sandi ikut terbawa melayg bersama Pakde yg sedang melahap rakus isterinya.

Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Dewi nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yg amat sangat seperti ikan moa yg terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Sandi juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Joko makin merosot ke perut isterinya.

Tak pelak lagi Dewi mendesah keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Joko dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Dewi dan kemudian meluncur cepat ke bibir memeknya.

Nampak banget bagaimana bibir Pakde Joko mencaplok untuk melumati bbir memek Dewi. Lidahnya yg menjilat sambil menyeruak menusuki memeknya membuat Dewi histeris. Tingkahnya yg jatuh bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Sandi mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.

Sambil terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yg sempit, kocokkan Sandi yg semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahygan Ekspres. Sandi tak tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Sandi. Yaitu orgasme pertama yg diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat digauli orang lain yg bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yg paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Dewi.

Pakde secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Dewi. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yg besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ memek yg peka dan lembut mlik Dewi. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Dewi bak kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yg berposisi menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi lubang memeknya. Kegatalan yg amat sangat pada memeknya itu pula yg membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.

Pakde yg sangat berpengalaman ‘ngerjain’ para perempuan, tahu bahwa Dewi sudah menunggu k0ntolnya yg kini juga telah melar keras untuk secepatnya menusuki memeknya. Dengan akar-akar sarafnya yg mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yg menumpuk pada kemaluannya hingga membuat sang k0ntol itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Dewi hingga arah memeknya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan k0ntolnya yg sudah matang itu ke lubang kenikmatan memek Dewi. Sekali.., dua kali..

Sandi kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala k0ntol Pakdenya yg besar sedikit kesulitan menembusi memek istrinya yg sempit. Pada tusukkan yg kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya k0ntol gede itu berhasil menembus memek Dewi istrinya. Bleesszz..

Menyaksikan itu semua kemaluan Sandi cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Sandi melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi. Sandi ingin meraih orgasmenya yg kedua.

Disaksikannya Pakde Joko mulai memompa istrinya. Dan Dewi sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yg bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyg keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yg indah itu.

Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Joko mengamati tingkah Dewi serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah. Itulah ‘multi jurus’-nya Pakde. Dengan cara itu memek Dewi serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Dewi mulai menapaki puncak kenikmatannya. Dewi mulai menyongsong orgasmenya yg sejati. Orgasme yg rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.

Sandi tahu, selama ini belum pernah melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yg dia saksikan kini bersama Pakde Joko. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yg ditunggu Dewi. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yg dia raihnya, Dewi kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke memeknya.

Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Dewi langsung berubah ganas. Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Dewi bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke kasur. Dia ‘cengklak’ tubuh Pakde seperti seorang joki men’cengklak’ kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih k0ntol Pakde untuk dia tusukkan ke memeknya, dan dengan cepat memeknya langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Dewilah pemegang kendali.

Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya memompakan k0ntol Pakde ke memeknya. Sandi melotot mengamati memek Dewi yg bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik Pakde Joko. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Sandi bagaimana bibir memeknya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yg memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga memek isterinya itu. cerita sex

Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Dewi seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar punggungnya. Memeknya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun sedang melanda Dewi.

Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan keringatnya yg mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Joko. Villa Rimbun Ciawi yg sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yg memancar dari tubuh indah Dewi kini sejuk kembali.

Dari balik dinding Sandi juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Joko telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yg benar-benar hebat. Sandi merasa banyak belajar dari apa yg dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde bisa membaca arah kemana Dewi mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Dewi, lawannya telah lebih dahulu terpuaskan.

Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tdk perlu diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Joko akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Sandi mulai mengerti, bagaimana Pakde Joko akan mampu melayani Dewi kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Dewi sepanjang dia tdk mampu melakukan seperti yg Pakdenya bisa lakukan.

Sore itu sesudah permainan pertama, yg mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Sandi untuk menyalakan gas LPJ yg membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yg tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Dewi Sandi disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.

Malam itu Dewi bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan. Sandi mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Sandi.. Sandi.., hebat kau..

Selesai makan Dewi dan Pakde pergi ke beranda dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Sandi merunduk mengintip diantara dedaunannya. Sandi yg mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan itu melihat bayg-bayg istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya si Dewi. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa perkawinannya.

Dia saksikan bagaimana tangan Dewi yg demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Joko sambil tangan kanannya, tangannya yg cantik dengan jari-jarinya yg lentik itu meremas dan mengelusi batangan gede k0ntol Pakde Joko. Ah, Dewi.. Dewiku.., batin Sandi yg menangisi isterinya.

Dewi meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.

Kecupan dan jilatan itu mendongkrak saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur untuk menjilati berbagai rasa yg keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini yg didengar Sandi adalah desis Pakde yg menahan geli birahi akibat ulah istrinya itu. Tak puas-puasnya Dewi menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak Pakdenya yg tampan itu menerpa hidung Dewi.

Rambatan ciuman itu terus meluncur turun keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Dewi rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal bagi lidah dan bibir Dewi memasuki wilayah kemaluan Pakde Joko. Nampak k0ntolnya yg tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu Dewi. Dengan pipinya Dewi menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali Pakde menyibak sebaran rambut Dewi agar tdk mengganggu alur lidah dan bibirnya yg terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat nikmatnya bak siput sawah yg sedang merambati wilayah selangkangannya.

Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Dewi ini. Dia memerosotkan tubuhnya pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yg lebih terbuka kepada Dewi saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Dewi benar-benar terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Joko. Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.

Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian yg melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut Dewi. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan rintihan Pakde itu membuat Dewi semakin ganas serta liar untuk meningkatkan serangan birahinya. Pipinya yg semula digunakan untuk menyisihkan k0ntol, kini dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan k0ntol Pakde yg tonggak kaku itu mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde. Lubang kencing yg nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah merekah menahan desakan darah syahwat yg menjalari k0ntolnya.

Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah Dewi yg sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Dewi mengkulum seluruh kepala dan batang k0ntol itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak bulat panas yg kaku dan berkilatan dengan urat-urat yg kasar mengelilingi seluruh geligirnya.

Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih dalam gelombang nikmat yg datang bertubi.
Sandi memperhatikan betapa mata istrinya merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini?? Adakah ini karena kepiawaian Pakde Joko dalam menggiring birahi Dewi? Sehingga membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?

Rambut Dewi yg panjang sering menghalangi pandangan Sandi pada apa yg sedang berlangsung. Nampaknya Dewilah yg sekarang ganti memanjakan Pakde Joko dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga ujung kemaluan yg tegak kaku itu. Pakde Joko tdk keliru membaca perempuan. Betul-betul kini dia serasa terbang melayg diangkasa nikmat.

Apa yg kini sedang dilakukan Dewi sesuai dengan bacaannya. Dewi adalah perempuan seksual yg sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis ‘merit’ macam istri Sandi ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Joko pusatkan pada bagaimana Dewi bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal kehendaknya sendirilah yg akan mendorong cepat atau lambat datangnya orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.

Kini perempuan ini sudah kembali menimba birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yg dia rasakan tadi membuatnya ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir dengan merangsang k0ntolnya Pakde Joko akan cepat mengejar nafsunya. Dan harapan Dewi untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia keliru. Pakde Joko bukan anak kemarin sore. Dia bukan Sandi. Kenikmatan yg kini diberikan Dewi akan di ‘follow up’ di mulut Dewi sendiri.

Kini Pakde sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Dewi mengecupi k0ntolnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Sandi ini berkecipak melahap batang k0ntolnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Dewi. Dia pengin menyaksikan bagaimana Dewi menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali. Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Dewi untuk menjilati cairan kentalnya yg tercecer.

Itulah nafsu hewaniah Pakde Joko yg kini merundung dirinya. Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Dewi, sementara khayalan birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Dewi terjebak.

Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.

Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya terlepas dan diambil alih Pakde Joko. Tanpa mau melepas rengkuhan Dewi pada k0ntolnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Dewi untuk naik kesofa dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan k0ntolnya yg tak pernah lepas dari mulut lembut Dewi, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan selangkangnnya mengangkang di atas dada Dewi. Sementara Dewi masih berpikir bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali kemaluannya pada memeknya.

Tetapi sekali lagi harapan Dewi ini keliru. Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Dewi. Dan ketika batas batas sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yg keras dari mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yg kuat menekan kepala Dewi agar tetap terpaku di sofa selama k0ntol Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga mulut Dewi, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Dewi memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yg Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan selintas dia sempat berpikir tentang Sandi. Biarlah Sandi menyaksikan apa yg memang dia harus saksikan.

Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan k0ntol Pakde menandai setiap semprotan spermanya. Mulut manis mungil Dewi tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya Dewi benar-benar menjilati sperma yg tercecer dia ingat kembali saat bersama Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Jokopun terpenuhi harapannya.

Sandi terbengong-bengong menyaksikan bagaimana nafsu liarnya Dewi di atas sofa bersama Pakde Joko itu. Benar-benar tak habis mengerti, bahwa Dewi yg kesehariannya cantik dan lembut itu bisa berubah menjadi malaikat seks yg dengan ganas membawa prahara birahi untuk menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yg tak pernah dia berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Joko merasa bahwa menganggap lunas hutang suaminya amat sepadan dengan apa yg di berikan Dewi kepadanya. Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Dewi yg kini bersandar di dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yg luar biasa dengan hadirnya Dewi ini.

Dari balik pot-pot yg tdk jauh dari sofa Pakde dan istrinya Sandi terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yg membuat tenggelam dalam judi t0gel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yg dilakukan Pakde pada isterinya. Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Dewi sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi Dewi Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya, sudahlah.. >> orisex.com

Yg kini masih dia miliki adalah hak untuk ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya di’entot’ orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu histeris oleh kenikmatan syahwat yg diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde Joko. Rasanya Sandi juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya mengalir membasahi tenggorokan isterinya.

Dan lepas dari semua hal itu, yg benar-benar melegakan Sandi sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari Pakde Joko. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia kini bertekad untuk tdk lagi main t0gel. Dia akan mencoba menepis godaan teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena merekalah kini Sandi merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini mereka tak mampu membantu apapun.

Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin. Bukankah situasi macam begini yg Pakde impikan sejak pertama kali beberapa waktu yg lalu dia melihati Dewi tanpa berkedip. Dan bagi Dewi, bukankah lelaki macam Pakde ini yg telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!

Dan bagi Sandi, apa yg bisa dibuat selain kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.

Dari kamarnya Sandi melihat Dewi langsung rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yg nyaris tak dipakai secara utuh, Dewi setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan betisnya yg tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde dengan jubah tidurnya yg telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tdk. Pakde tdk menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di ujung kaki Dewi. Apa yg akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir Sandi.

Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki Dewi. Dia raba betisnya yg ‘merit’ itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk. Pakde mencium kaki Dewi. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati. Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Dewi yg selalu terawat apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Dewi seakan kena stroom ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.

Dia terbangun-bangun menahan geli yg menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat tenang. Ditahannya dengan tangannya yg kuat kaki-kaki Dewi sehingga berontaknya tdk membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya. Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Dewi.

Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Dewi. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Dewi bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Dewilah yg selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang ‘paha dan betis belalang Dewi’ selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Dewi.

Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Dewi. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yg bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Dewi. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Dewi kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.

Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yg menebar dari paha Dewi membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Dewi. Tdk akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Dewi yg ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yg sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Dewi. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang memeknya. Namun Pakde tdk melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Dewi hingga posisinya tengkurap di kasur.

Kini nampak pantat Dewi yg menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Dewi. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Dewi tersentak. Bagi Dewi lubang dubur adalah hal yg sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yg dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang.

Tetapi tdk bagi Pakde Joko. Jilatannya terasa ‘keri’ menusuk-nusuk lubang pantat Dewi. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Dewi sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Dewi yg belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yg tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,

“Tidaakk.. jangaann.. jangaann..”

Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Joko. Dia cepat berpikir bahwa pantat Dewi masih pantat perawan. Kalau dulu Sandi merawani memeknya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Dewi dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tdk melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yg perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Dewi tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Dewi ketakutan. Tetapi yg dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,

“Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee..”

Apapun rintihan Dewi tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Sandi juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yg bisa dia perbuat untuk membantu Dewi? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yg akan membuat tangis Dewi serasa tak berkesudahan.

Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Dewi dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Dewi yg masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana k0ntol Pakde yg demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Dewi. Dewi puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Joko. Tetapi sekali lagi Pakde Joko mampu membuat isteri Sandi itu tak berdaya.

Kini rambut Dewi yg terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Dewi ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara k0ntol itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Dewi. Rasa sakit yg hebat menimpa Dewi. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada k0ntolnya agar bisa menembus dengan lubang anal Dewi. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yg dirasakan Dewi? Setiap mili kemajuan k0ntol itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.

Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya k0ntol itu memang tenggelam tertelan anal Dewi, tetapi akibatnya Dewi kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yg tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Dewi dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Dewi terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.

Untuk beberapa saat dia tdk bergerak. Pikirnya, biarlah Dewi menyesuaikan diri dulu, dimana k0ntolnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Dewi sambil merajuk dan mencumbu.

“Nggak apa-apa Wi, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt..” sedu sedan Dewi masih terdengar.

Kembali ke Sandi yg kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yg ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Dewi telah menjadi korban tingkah lakunya yg pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!

Aneh, ternyata cumbuan Pakde Joko seperti menyihir Dewi. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata

“Aduuhh, sakiitt.., yg pelaann..” namun tak ada uapaya menolak dari Dewi saat Pakde kembali menggoyg kemaluannya pada anal isteri Sandi itu.

Dan setelah beberapa saat kemudian goygan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa memeknya, Dewi sama sekali tdk mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Sandi melotot keheranan.

Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goygan saat k0ntol panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Dewi dengan cepat memahami kenikmatan yg dijanjikan Pakde Joko. Bahkan ketika beberapa kali k0ntol itu copot dari analnya, tangan Dewi dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya.

Sungguh sebuah pemandangan yg sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan k0ntol monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Sandi mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yg keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yg sangat atraktip itu.

Pakde Joko benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Dewi sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Dewi merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yg kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Sandi dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Joko tak lagi mampu menahan sperma untuk tdk tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yg paling tinggi.

Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Dewi menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Joko. Dan Sandi dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan k0ntolnya yg juga ngaceng berkilatan. Pakde Joko sendiri yg bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yg .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.

Pantat Dewi masih terus menjemputi, k0ntol Pakde masih memompa, tangan Sandi semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Dewi dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Sandi bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Sandi langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yg sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti.

Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Joko pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Joko bersama Dewi semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Sandi dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Joko meringkuk dalam selimut tebal. Sandi yakin mereka sama-sama bertelanjang.

Sandi menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yg sekarang masih tidur dalam pelukan.

Perpisahan

Akhirnya Sandi terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Dewi. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Dewi. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Dewi. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tdknya pada Dewi. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.

Sandi juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Dewi. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Joko menujukkan kepuasannya yg luar biasa. Siapa tahu, Pakde Joko akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Dewi.

Pagi yg sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yg sejuk. Pagi itu kedua insan yg sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yg hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yg aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Joko menuntun Dewi ke rimbunan tanaman hias yg penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yg warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yg paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.

Pakde Joko tak puas-puasnya menggeluti Dewi yg isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Dewi yg tak pernah lagi memikirkan Sandi suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yg selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yg ada pada dirinya.

Kini Dewilah yg tergila-gila pada Pakde Joko. Dia bersedia melakukan apapun yg akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yg kini terjadi. Pakde menggelandang Dewi untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yg sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yg sebelumnya telah disiapkan Sandi atas permintaan Pakdenya.

Dan Sandi juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Joko untuk menggelar matras tadi. Tetapi Sandi sekarang juga bukan Sandi yg kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Dewi bergelut nikmat bersama Pakde Joko, dia tdk lagi terbawa emosi. Yg dia pikirkan sekaranga adalah,

“Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!”

***
Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa “Cerita Sex Istriku Ditiduri Pakdeku” dan foto sex bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*