vimax obat pembesar penis
iboqq-728x90
vimax-asli-canada
Bandar Q bandar poker bandar poker

Balo Goal Bandar Bola
vimax
resizedimage-phpayoqq agen bandarq online resizedimage-phpagenqq
situs poker
Home » Cerita Sex Istri » Cerita Sex Punya 3 Istri

Cerita Sex Punya 3 Istri

Alt/Text Gambar ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Orisex web dewasa yang berisikan cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa dan foto bugil tante bispak abg hot terbaru 2016

Cerita Sex Punya 3 Istri

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita TerbaruCerita Sex Punya 3 Istri – Ist

Meski agak susah payah, 3 tahun aku sudah menjalani kerja sebagai agent property. Sejak lulus S-1 Ekonomi, pekerjaan yang paling mudah diperoleh adalah agent property, lowongan lainnya terlalu berat seleksinya.

Cerita Sex Terbaru | Cukup lama aku berjuang melawan malu, takut, dan kejar target. Akhirnya semua jadi terbiasa dan menjadi modal untuk meningkatkan karir. Aku terpacu oleh agent-agent lain yang kelihatannya biasa-biasa saja tetapi penjualannya cukup baik. Di kantor agent tempatku bekerja sebagian besar agent adalah cewek, ada yang ibu-ibu dan banyak juga yang masih muda.

Kadang-kadang penampilan mereka membuatku iri. Mobil mereka bagus-bagus, dandanan dan asesorisnya berkelas. Sementara aku harus puas dengan sepeda motor. Aku bertekad harus bisa menyamai para top seller. Pendapatanku banyak terpakai untuk mengikuti sales seminar dan seminar property. Aku pikir pengalaman dan pengetahuan orang perlu aku serap, karena kalau harus mengalami sendiri terlalu lama jatuh bangunnya.

Perlahan-lahan penjualanku mulai meningkat, sehingga menjadi perhatian sesama sales. Salah seorang sales di kantor ku membuka kantor agent property sendiri. Dia mengajakku untuk bergabung. Aku pikir dan pertimbangkan yang mengajakku adalah agent cantik, seorang wanita yang selalu berpenampilan smart keturunan China usianya masih tergolong muda. Mungkin malah sebaya dengan aku sekitar 25 tahun.

Cerita Ngentot | Ia sudah cukup lama terjun menjadi agent, sejak awal kuliah dulu dia sudah bergabung menjadi agent property. Kantor baru, ternyata hasil patungan 3 orang agent. Selain Denisa, juga Hani dan Murni. Ketiga mereka termasuk bintang di kantor ku yang lama. Hani juga cantik, sebagaimana gadis Manado, kulitnya putih, rambutnya hitam lebat. Murni, ayu khas Indonesia banget, warna kulitnya kalah putih dengan kedua rekannya, tetapi masih bisa dibilang putih.

Sebagai bos di kantor baru aku selalu berhubungan dengan mereka. Penjualanku terus menanjak, itu yang membuat mereka senang. Ketiga bidadari yang menjadi bosku itu makin akrab. Meski mereka cantik dan masih muda, tetapi aku sama sekali tidak berharap bisa lebih intim. Selain karena bos, juga rasanya kurang enak, karena rekan kerja sekantor.

Setelah setahun, aku bergabung dengan mereka, aku baru tahu bahwa ternyata mereka adalah janda. Aku cukup terperanjat, karena cantik dan semuda mereka kok bisa ketemu laki-laki bodoh yang menceraikan mereka. Kenapa sampai cerai dan bagaimana ceritanya, aku tidak tahu, aku gak berani nanya-nanya soal itu, lagian apa urusanku menyelidik mereka.

Meski begitu ada juga yang membuatku penasaran. Jika mereka sudah tidak bersuami, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan biologisnya. Apa mungkin mereka menggunakan jasa gigolo, atau gimana ya ?

“Hey ganteng, sibuk nggak,” tegur Hani.

Aku memang sering digoda dengan sebutan si ganteng. Hani minta aku temani karena dia mau prospek orang di hotel. Kata dia calon prospeknya kelihatan jelalatan, dia takut dijebak.

Aku memang sedang tidak ada prospek, “ kalau gol, gua dapat komisi juga ya,” godaku.

“Ah lu perhitungan amat, minta ditemani aja, pakai nuntut komisi,” katanya.

Aku sebenarnya bercanda menggoda dia saja. Padahal aku tahu, prospek yang akan ditemuinya itu berminat membeli satu tower apartemen. Seandainya aku jadi Hani, jika prospek menuntut minta ditemani tidur semalam, rasanya wajar aja, sebab yang bakal didapat satu tower. Bisa meledak tuh komisinya.

Calon prospeknya memang jelalatan, wajar jika Hani ngeri nemuin dia sendirian. Mana orangnya buncit, kulit hitam dan tampangnya gak ada bagus-bagusnya. Tapi duitnya banyak. Hani mulai menggelar jualannya. Aku hanya diam saja sambil mencermati bagaimana dia memikat dan menjerat prospeknya. Sebenarnya ilmu jualan Hani gak hebat-hebat amat. Aku pikir malah standar saja. Mungkin karena dia cantik, maka dia banyak menjaring pembeli. Suaranya memang renyah, malah cenderung rada merangsang.

Prospek yang dihadapi Hani ternyata bukan orang yang mudah dipikat dan digoda dengan kecantikan. Dia membanding-bandingnya dengan apartemen lain yang sekelas dengan yang dijual Hani. Wah Hani kelihatannya kehabisan akal menanggapi serangan si jelek yang tajir itu. Belum terlihat tanda-tanda dia tertarik dengan barang yang dijual Hani. Dadaku sudah sesak, karena sedari tadi diam saja.

Setelah Hani terdiam, aku mengambil over dengan memberi tambahan penjelasan. Aku melihat prospek ini adalah spekulan. Dia ingin menggaet keuntungan dengan beli di pasar perdana dan menjual di pasar reguler. Penjelasan Hani tadi kurang menggelitik rasa geli spekulan. Aku langsung menggambarkan kemungkinan peningkatan harga pada setahun mendatang. Aku katakan minimal dalam setahun mendatang bisa untung 80 persen.

Sang prospek senyum sinis. Dia mendesakku dari mana aku bisa membuat perkiraan ngawur begitu. Aku mulai menggelar beberapa unggulan.

“ Pak bangunan yang dipasarkan dan yang dibangun ini baru menempati seperlima dari lahan yang dimiliki developer, artinya , di masa depan terbuka kemungkinan developer membangun mall, atau hotel, atau condominium. Porperty yang ada disekitar apartemen ini harganya sudah melonjak 100 persen dibandingkan setahun lalu. Padahal apartemen ini baru memulai menanam tiang pancang. Jika apartemen ini jadi, pasti developer sudah menyiapkan jualan property yang lain.

Gombal yang begitu, membuat si prospek terdiam, eh dia malah membetulkan pernyataanku, karena ternyata dia pernah mau beli sebidang tanah dekat dengan bangunan apartemen itu, sekarang harganya sudah lipat dua.

Setelah basa-basi sedikit, akhirnya deal dan penjualan close. Hani sibuk menyiapkan berbagai dokumen. Aku membantunya. Sejam kemudian aku dan Hani sudah berada di mobil. Aku mengendarai Mercy C-200 terbaru miliknya. Kami kembali ke kantor. Di kantor, ternyata Denisa dan Murni menunggu kami. Maklum ini jualan besar.

Begitu bersua, Hani langsung teriak “GOAL” mereka saling berpelukan sementara aku bengong saja melihat mereka bertiga meluapkan kegembiraan. Tanpa disangka-sangka Hani melompat memelukku dan kakinya langsung merangkul tubuhku dan mulutnya menciumiku berkali-kali sampai aku gelagapan.

Hani kemudian bercerita sambil memujiku. Menurut dia mangsa sudah hampir lepas, tetapi aku berhasil membalikkan situasi sehingga mangsa dengan suka rela masuk ke jaring. Mereka tidak tahu bahwa aku mempunyai kemampuan membaca pikiran lawan dan mengirim sugesti melalui telepati untuk menundukkan pendirian lawan bicara. Itu semua kupelajari dari mengikuti seminar-seminar.

Sejak saat itu, jika mereka akan bertemu prospek kakap mereka selalu mengajakku. Jika aku berhalangan mereka berani menunda appointment, menunggu sampai aku ada waktu. Memang tidak ada prospek yang gagal selama aku mendampingi mereka. Jualan mereka tidak lagi unit, tetapi sudah tower-tower.

Aku memang kecipratan banyak juga sih dari komisi mereka, tapi rasanya gak puas kalau belum aku sendiri yang mendapatkan prospek kakap.

Di hari yang aku lupa, Para bosku memanggil ke ruang kerjanya. Mereka meminta kesediaanku untuk menjadi sopir mereka. Seorang rekan mereka melangsungkan perkawinan di kota Cirebon. Aku juga kenal, karena Vera adalah pernah satu kantor di tempat yang lama.

Di hari yang dijanjikan, sekitar jam 10 pagi menjelang siang aku dijemput dengan Mercy C-200. Duduk di depan Hani dan dibelakang Murni dan Denisa. Mereka pada doyan tidur, sehingga di jalan tol kulajukan dengan kecepatan maksimum, Sekitar jam 4 sore kami sampai di Cirebon. Murni yang agak mengenal kota ini mengarahkan ke penginapan berbentuk cottage.

Untuk urusan chek in, Denisa yang mengatasinya, Seorang bell boy mengarahkan kendaraan menuju salah satu cottage. Cottage yang dipilih lumayan bagus, bangunannya besar, namun ruang tidur dan ruang tamu menyatu. Rupanya yang dipesan hanya satu cottage. Berarti aku akan tidur dengan 3 bidadari.

Acara resepsi perkawinan dimulai jam 7 malam, sehingga masih ada waktu bagi kami untuk istirahat. Aku langsung masuk kamar mandi menyegarkan diri lalu berselonjor di sofa bed. Mataku ngantuk sekali. Aku tidak tahu lagi apa yang kemudian terjadi. Sekitar sejam aku lelap dan ketika aku bangun mataku menangkap pemandangan yang menakjubkan. Ketiga cewek itu mengenakan daster tipis dan di dalamnya hanya mengenakan celana dalam. Tetek mereka yang bergelantungan tampak jelas oleh pemandangan mataku. Mereka tampaknya tidak canggung sama sekali.

Aku duduk dan menyesuaikan cahaya ruangan di mataku. Mengetahui aku sudah bangun mereka kelihatan sibuk, ada yang membuatkan kopi, ada yang menyodorkan cemilan. Hani dan Murni duduk mengapitku. Aku dipeluk mereka berdua, sehingga kedua ujung sikutku menyenggol benda empuk yang kenyal.

Tanpa basa basi tangan Hani meraih selangkanganku, dia langsung menggenggam batangku yang masih setengah keras. Jujur, pada waktu itu merasa kikuk. Karena 3 wanita berada di satu ruangan sementara dua orang mengapitku, sedang yang satu lagi masih sibuk dengan HP nya. Tapi aku cepat berpikir bahwa pasti mereka sudah punya rencana terhadapku sehingga tanpa canggung Hani berani berbuat seperti ini. Aku segera merespon aksi Hani dengan merengkuh pundaknya dan langsung mencium bibirnya. Hani langsung menyambut ciumanku dengan menyedot lidahku dan memainkan lidahnya masuk ke dalam mulutku.

Sedang aku asyik menguncup Hani, Murni menarik kepalaku sehingga ciumanku lepas dari mulut Hani dan langsung dicucup Murni. Nafas Murni sudah mendengus-dengus. Sementara itu aku merasa, resleting celanaku dibuka Hani lalu menarik sekaligus celana dalamku.

Batangku yang sudah lumayan keras langsung melenting. Penisku ukuran normal untuk orang Indonesia, panjang 15 cm dan garis tengah 4 cm. Namun yang mungkin agak istimewa, topi helmnya besar seperti kepala jamur.

“Wuih helmnya gede, amat,” kata Hani.

Dia mencoba mengulum penisku, tetapi kelihatannya agak kerepotan karena lebarnya kepala penisku. Aku agak sulit berkonsentrasi, sebab yang atas melayani Murni yang bawah di rogol Hani. Tanganku beroperasi meremas bongkahan tetek Murni. Teteknya tidak terlalu besar, tetapi tetap tidak muat untuk setangkup tanganku. Tanganku langsung masuk dari bawah dasternya meremas bongkahan tetek Murni dan memelintir putingnya yang sudah mengeras tetapi masih kecil.

Sementara itu aku merasa ada peserta baru di bawah sana. Aku melirik, Denisa ikut ambil bagian menjilati buah pelirku. Ini adalah pengalaman pertamaku bermain langsung dengan 3 wanita.

Tanganku meraih selangkangan Murni, langsung masuk ke balik celana dalamnya. Jembutnya tidak terlalu lebat dan parit ditengah nya terasa sudah berlendir. Aku menggosok-gosok parit berlendir itu. Dengan mudah aku menemukan clitorisnya, yang langsung aku gosok. Murni pecah kosentrasinya sehingga dia lepas dari mulutku.

Aku melepas celana Murni dan terus memainkan itilnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Murni duduk terkulai di sampingku dengan daster yang sudah tidak karuan. Sementara itu, Denisa mendahului temannya langsung mengambil posisi duduk di atas penisku dan mengarahkan penisku memasuki lubang hangatnya. Tanpa halangan penisku melesat perlahan, kedalam lubang kenikmatan.

Hani yang tidak kebagian mainan duduk di sampingku, kananku. Kurengkuh badannya dan kucium, lalu tanganku langsung menyeruak masuk ke balik celana dalamnya. Belahan memeknya juga sudah berlendir. Jembutnya dicukur botak, sehingga aku mudah menemukan lubang vaginanya dan meraih itilnya yang juga sudah mengeras. Aku mainkan itilnya. Hani mengerang-ngerang. Karena konsentrasiku terpecah-pecah, sehingga aku tidak terlalu fokus dengan genjotan Denisa. Tanganku yang satu lagi tangan kiri ditarik si Murni lalu dia mengarahkan agar aku memainkan memeknya lagi.

Tiga tugas kulakukan dalam satu waktu, sehingga agak sulit bagi otakku mengendalikan gerakan. Aku turuti kemauan murni dan jari-jariku langsung melesat masuk ke dalam liang vaginanya. Untung aku rajin memotong kuku, sehingga aku tidak ragu-ragu mengobel memek.

Setelah jari tengahku masuk penuh, aku mencoba memasukkan jari manisku sekaligus, dua jari berhasil masuk. Aku mengocok-ngocok. Rupanya posisi Murni kurang leluasa menikmati sodokan jariku, dia berbaring dan mengarahkan selangkangannya menghadapku. Sementara itu di sebelah kanan si Hani sudah pula mengerang-ngerang karena kilikan jari di itilnya. Aku melepas celananya yang dia bantu sehingga bagian bawahnya yang gundul terlihat jelas. Aku masukkan jari tengah lalu aku masukkan lagi jari manisku.

Kini jari-jari penting sedang bermain di kiri dan kanan. Hani mengikuti Murni mengubah posisinya menjadi telentang dan menghadapkan selangkangannya ke arahku. Aku memainkan G Spot Hani dan Murni secara bersamaan dan mempertahankan kekerasan penisku yang terus digenjut Denisa. Sekitar 5 Menit kemudian Murni mengerang panjang dan bersamaan dengan itu terpancar cairan ejakulasinya sehingga mengenai tubuh Denisa. Terbawa oleh suara erangan Murni, Hani menyusul memancarkan cairan ejakulasinya sambil mengerang dan berkedut-kedut. Denisa makin hot melihat kedua temannya mencapai orgasme dan aku pun jadi makin bernafsu sehingga aku merasa akan segera menembakkan spermaku.

Mungkin karena waktunya hampir sampai atau memang gerakan Denisa yang memberi kenikmatan akhirnya aku melepas beban birahiku dengan menyemprot cairan hangat ke dalam rongga memek si Denisa. Pada semprotan kedua Denisa mendekapku dan menekan memeknya ke penisku sehingga seluruhnya terlahap oleh memek Denisa. Dia juga menjerit dan memeknya seperti meremas-remas penisku. Mungkin inilah maksud dari pepatah,

“ Sekali kayuh, 3 pulau terlampau, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya”.

Ya cerita ini memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya, sehingga aku perlu menceritakannya karena kejadian seperti yang kualami ini tak banyak yang bisa ikut merasakan. Kalau tidak unik maka tidak akan kuceritakan.

Kami berempat terkulai lemas. Aku sempat tertidur sekitar 10 menit, para cewek juga sudah tertidur. Hembusan AC lama-lama terasa dingin, sehingga mereka terbangun. Badanku terasa lengket, karena di bagian bawah berselemak cairan sperma dan cairan memek Denisa, tangan kanan dan kiriku juga berselemak dengan cairan memek Hani dan Murni. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 6 sore.

Aku beranjak bangun menuju kamar mandi, karena kantong kemihku terasa penuh. Dengan santai aku bertelanjang bulat lalu mandi air hangat di pancuran. Tidak lama kemudian masuk ketiga perempuan yang barusan aku embat dalam keadaan telanjang bulat.

Lampu kamar mandi yang terang benderang memberi pandangan nyata terhadap body mereka satu persatu. Hani badannya cukup sekel, tetek tidak terlalu besar, bulu jembutnya sama sekali tidak ada, sehingga memeknya botak dan kelihatan cembung, seperti memek anak kecil. Murni teteknya lebih besar dari Hani, tingginya paling pendek diantara teman-temannya, jembutnya tidak terlalu banyak, rambutnya hitam lurus. Denisa kulitnya putih teteknya paling gemuk diatara teman-temannya, putingnya merah muda dan jembutnya lebat sekali berwarna hitam.

Kami mandi bersama-sama sambil bercanda dan aku meremasi tetek dan menghimpitkan penisku yang belum terlalu tegang ke pantat mereka yang menggairahkan. Kami berempat sudah tidak ada jarak lagi. Tanganku bebas merogoh memek siapa pun, meremas tetek siapa pun dan mencium siapa pun.

Kami harus bersiap-siap untuk menghadiri resepsi, Vera. Ketiga cewek yang sebenarnya adalah para bosku tampil anggun dengan gaun pesta malam. Jika melihat dari penampilan mereka dengan busana lengkap ini mereka sangat berwibawa. Tidak sebersit sedikitpun dibalik kewibawaan itu, mereka adalah wanita yang ganas dalam hal sex.

Kami hanya sekitar 2 jam saja di acara pesta itu lalu kembali ke penginapan. Sesampai di penginapan Murni mengungkap bahwa aku lulus dengan nilai terbaik pada ujian pertama. Masih ada ujian-ujian berikutnya. Ujian berikutnya adalah aku barus membuat semua mereka mendapat kepuasan malam ini, Murni bertanya apakah aku sanggup menghadapi ujian itu. Aku sanggupi tantangan itu, namun aku minta waktu sekitar 1 jam untuk tidak diganggu. Denisa, bertanya, untuk apa.

Aku jelaskan bahwa tantangan itu cukup berat, sehingga aku harus mengembalikan kebugaran tubuhku. Aku perlu waktu melakukan meditasi. Mereka celingukan heran, tapi kemudian aku diberi waktu sejam untuk bermeditasi. Aku duduk di karpet dengan melipat kaki dan kedua telingaku ku pasang earphone untuk mendengarkan musik for meditasi. Aku melakukan menditasi sekitar 30 menit.
Badan kembali terasa segar, dan tenaga pulih kembali.

Mereka yang memperhatikanku bertanya untuk apa aku meditasi. Aku jelaskan singkat saja, meditasi untuk memulihkan tenagaku yang terkuras karena nyopir dari Jakarta dan ejakulasi yang tadi.

Menurut kesepakatan mereka bertiga mereka satu persatu harus aku layani sampai puas. Yang mendapat giliran pertama adalah Denisa, yang kedua Murni dan yang terakhir adalah Hani. Aturan yang ditetapkan, aku harus bisa memuaskan mereka dalam waktu maksimum 20 menit untuk setiap orang, sehingga pengantri berikutnya tidak terlalu lama menunggu.

Menghadapi tantangan seperti ini kalau tangan kosong mana mungkin aku bisa mengatasinya. Meski aku masih muda tetapi aku sudah mempelajari Tao dan cukup mahir memainkan hipnotis. Sebab hipnotis aku perlukan dalam rangka marketing, hipnosis selling.

Aku terima tantangan itu, namun aku minta bantuan mereka untuk aku rilekskan badan mereka dulu. Aku tidak mengatakan menghipnotis mereka, tetapi membuat badan mereka merasa rileks. Ketiganya duduk berjajar di sofa lalu dengan cepat aku masukkan dalam pengaruh hipnotis. Aku sugestikan bahwa mereka akan merasakan orgasme ketika mendengar tepukanku sekali, jika aku bertepuk dua kali mereka akan bangun dan sadar kembali.

Setelah mereka dibawah pengaruh hipnotis aku segera mensugesti orgasme. Ketiganya kelojotan gak karuan. Aku biarkan keadaan itu sampai 5 menit baru aku bangunkan. Mereka terbangun dan mata mereka semua layu seperti orang kelelahan.

Denisa segera aku bimbing ke kasur dan kami bertelanjang bulat. Hani dan Murni menonton pertandingan babak pertamaku. Tanpa foreplay aku langsung tancap gas. Aku berusaha mengatur nafas dan berusaha bertahan, sementara itu sambil aku memeluk dan menciumi telinganya aku bisikkan sugestiku orgasme.

Baru 2 menit permainan Denisa sudah mengerang-ngerang kelojotan mencapai orgasmenya. Badannya langsung lunglai, aku tetap bertahan pada posisi MOT, tidak berapa lama dia sudah menjerit lagi karena gelombang orgasmenya menderanya. Dalam 10 menit dia sudah mencapai 4 kali orgasme, yang dua kali pertama di bawah pengaruh hipnotis sedang yang berikutnya di capai dalam keadaan sadar. Akhirnya Denisa minta aku menghentikan permainan karena dia sudah tidak sanggup.

Berkat hipnotis orgasme mereka bertiga tadi, memek Murni sudah ready. Celah vaginanya sudah berlendir dan licin. Tanpa pemanasan aku langsung menancapkan penisku dan memompanya perlahan-lahan. Aku kembali membisikkan sugestiku, dua menit kemudian Murni sudah berteriak karena orgasmenya yang pertama. Aku berhenti sejenak memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya.

Aku genjot lagi tidak sampai dua menit dia sudah berteriak lagi karena gelombang nikmat yang tidak tertahankan. Aku biarkan dia dalam pengaruh hipnotis, sehingga dia berkali-kali mencapai orgasmenya . Aku tidak sempat menghitung, tetapi setelah orgasmenya yang kelima aku sadarkan dia, namun karena perangkatnya sudah bisa menyesuaikan permainanku, maka dia mudah mendapat orgasme lagi sampai lebih dari 3 kali. Dia pun akhirnya minta ampun dan minta dihentikan permainanku.

Murni langsung tidur pulas seperti Denisa yang sudah mendengkur halus. Tinggal Hani yang masih terjaga. Dia geleng-geleng kepala melihat kemampuanku menewaskan dua wanita temannya sampai terkapar tak peduli dengan ketelanjangannya.
Hani mengambil posisi diantara kedua temannya dan langsung aku tiban. Memeknya masih lumayan basah, sehingga dia dengan mudah melahap penisku masuk menerobos liang vaginanya.

Aku kembali membisikkan sugesti orgasme dan tidak lama kemudian dia berteriak melengking karena merasakan kenikmatan luar biasa. Setelah istirahat sejenak aku embat lagi dan dia kembali mendapatkan orgasmenya. Aku biarkan terus menerus dia mencapai orgasme dibawah pengaruh hipnotis, sampai akhirnya dia terlihat agak lelah lalu aku sadarkan. Itu tidak banyak menolongnya karena dalam keadaan sadarpun dia kembali menjerit, sampai harus kututup bantal mulutnya.

Dia minta aku menghentikan permainan, karena dia sudah lelah sekali dan matanya sangat berat. Aku masih menggenjotnya sampai dia sekali lagi mencapai orgasme. Dia sudah tidak bertenaga lagi meski gelombang nikmatnya tidak mampu dia bendung. Akhirnya dia tergeletak seperti orang pingsan.

Ketiga cewek bosku itu terkapar di kasur berjajar bugil seperti ikan kembung. Iseng-iseng aku jepret dengan kamera HP dari berbagai posisi. Ini adalah moment yang tidak akan pernah terjadi lagi. Sementara itu aku belum mencapai puncakku. Aku mengalah dan memang sengaja tidak memuncratkan spermaku untuk menjaga tenagaku agar tetap fit.

Mereka bertiga tidak ada yang mengetahui bahwa aku menguasai hipnotis. Itu memang rahasia. Aku membersihkan diri dan mengenakan pakaian lengkap. Aku keluar dan mencari udara segar. Sambil menghisap rokok aku bertemu dengan petugas hotel, mungkin dia security. Perut yang terasa lapar menginginkan segera diisi. Aku ingin sate kambing.

Security menawarkan jasa untuk membelikan sate kambing yang cukup terkenal di Cirebon. Aku pikir ini praktis juga, sebab jika aku sendiri yang mencari berkeliling belum tentu bisa menemukan penjual sate kambing, apalagi yang top.

Setelah kuberi uang aku minta dibelikan 40 tusuk sate bumbu kecap dengan lontong. Nikmat juga malam-malam berada di ruang terbuka. Kebetulan cuaca terang. Aku mencabut sebatang rokok lagi dan mencari tempat duduk di taman dekat kolam.

Sekitar sejam kemudian pesanan sateku tiba. Setelah basa basi dan memberi uang tips, aku kembali masuk ke kamar. Ketiga perempuan masih nyenyak mendengkur di balut selimut. dibawah selimut mereka telanjang bulat.

Perut yang kosong menuntut agar aku segera menyantap sate. Sambil menonton TV aku menikmati sate yang ternyata memang benar enak dan empuk. Hani terbangun. Kelihatannya dia kebelet pipis, karena langsung ngloyor sambil bugil masuk kamar mandi dan karena pintunya tidak ditutup maka desiran air kencingnya terdengar sampai keluar.

Kedengarannya dia membersihkan diri dengan air shower, mungkin bekas keringat yang lengket serta cairan setubuh yang mengering di selangkangannya menimbulkan rasa risih. Keluar dari kamar mandi dengan santainya tetap dalam keadaan bugil dia hampiri kedua koleganya yang masing ngringkel. Ditariknya selimut lalu dibangunkan keduanya. Denisa dan Murni terbangun karena gangguan itu. Murni bangkit dalam keadaan telanjang juga setengah berlari ke kamar mandi. Kembali terdengar desiran pancaran kecingnya. Denisa latah ikut masuk kekamar mandi dan dia pun melepaskan hajat kecilnya dengan semburan yang tak kalah nyaringnya.

Hani bergabung denganku dan mengambil sebungkus sate. Dia memang penggemar sate, terutama sate kambing. Karena tusukan satenya yang sudah kelihatan, dia tidak lagi bertanya, langsung beraksi. “Enak nih satenya empuk, dimana belinya,” tanyanya. Hani duduk di karpet yang sudah dia lapisi dengan kain. Kaki kirinya ditekuk keatas dan kaki kanannya juga dilipat seperti posisi bersila.

Murni menyusul dan mengambil jatahnya dia makan di dekat Hani sambil jongkok dan juga bugil. Denisa datang belakangan masih sempat nyrocos menanyakan makanan yang kami santap. Dasar perempuan mulutnya lebih nyinyir, padahal gak perlu tanya juga udah bisa lihat apa yang kami makan. Dia ikut-ikutan bugil dan duduk bersila di samping Murni. Hanya aku yang mengenakan pakaian, celana boxer dan kaus oblong. Tapi mereka tidak peduli dan tidak juga protes.

Setelah acara naked gala dinner usai, kami ngobrol tanpa topik. Tiba-tiba Denisa bertanya, apakah aku sebelum ini memakai obat tahan lama, menghadapi 3 cewek. Tentu saja aku katakan aku tidak minum obat apa pun. Denisa tidak percaya.

“kalau gak percaya lantas mau minta bukti apa,” tanyaku balik.

Denisa terdiam, karena dia tidak punya cara membuktikan soal doping.

Murni membelaku dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah, meditasi sebelum pertempuran tadi. Hani angkat bicara.

“ Aku harus angkat jempol sama kemampuan Joe, aku belum pernah main sampai kewalahan seperti tadi.”
“Gua juga belum pernah sampai kalah KO seperti tadi, padahal dia melayani kita bertiga,” tambah Murni.
“ Iya gua juga salut ama lu Joe, kayaknya kalau udah main ama lu, gua gak nafsu ama cowok lain.” kata Denisa.

Aku demikian tersanjung oleh pujian ketiga cewek yang sebenarnya sudah cukup matang dalam mengenal hubungan sex. Seperti yang ku ketahui, jika cewek sampai terpuaskan apalagi sampai menyerah karena tidak kuat lagi, dia akan sulit melupakan cowok yang menaklukan dirinya.

Sejak peristiwa itu aku bagaikan gigolo mereka. Bisa mereka satu persatu minta dipuaskan, dan sering juga mereka melakukan party 4 some. Akhirnya kami berempat menyewa apartemen yang cukup luas. Sekitar setahun kami bidup bebas berempat.
Sejak aku tinggal bersama mereka, aku tidak lagi bergabung dengan kantor mereka, karena aku memilih menekuni jalur menjadi developer. Mulai dari kecil-kecilan membangun town house, akhirnya lumayan juga aku bisa berlanjut membangun beberapa proyek town house.

Kami sudah seperti saudara kandung. Jika salah satu ada masalah, maka yang lainnya ikut repot mencari jalan keluar. Jika salah satu dari kami sakit, maka yang lainnya juga heboh.

“Tresno jalaran kulino” memang benar terjadi pada kami.

Mereka bertiga jadi mencintaiku demikian juga aku mencintai mereka bertiga, sehingga aku dan mereka bertiga juga tidak punya pacar. Jika ada yang kelihatan akrab, ada saja yang menegur. Kami jadi sulit dipisahkan. Jika kami berpesiar, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri, tidak ada yang mau tinggal. Jangankan gitu, maka di mall aja aku harus menggandeng ketiganya.

Mereka sudah menganggap aku adalah suami mereka, sebaliknya akupun mengangap mereka adalah bagian hidupku. Kenyataan ini agak sulit diterima oleh masyarakat umum, karena dianggap tidak wajar.

Adalah Murni yang mula-mula melontarkan ide, agar hubungan kami diresmikan saja dalam ikatan suami istri yang sah. Dengan demikian statusnya jadi lebih jelas. Denisa dan Hani yang berbeda agama denganku, ternyata tidak menolak. Rasanya kami lebih berani menghadapi malu, dari pada harus berpisah. Oleh karena itu, akhirnya disepakati pernikahan resmi.

Sudah pasti keluarga kami masing-masing tidak setuju atas gagasan gila itu. Belum pernah ada rasanya seorang laki-laki menikahi 3 wanita sekaligus. Meski kelihatannya janggal, tetapi tidak ada hukum yang kami langgar, baik hukum agama, maupun hukum negara.

Aku dan ketiga istriku sudah lama dan terbiasa hidup mandiri, bahkan banyak membantu keluarga-keluarga kami yang hidupnya kekurangan. Oleh karena itu keluarga kami masing-masing terbelah dua, ada yang setuju-setuju aja, tapi ada juga yang menentang.

Untuk lebih memantapkan diri, kami bersepakat untuk melaksanakan resepsi besar-besaran. Ini untuk menunjukkan bahwa kami tidak bersembunyi dan berani tampil dengan percaya diri.

Pesta pernikahan unik kami dihadiri oleh sekitar 3000 undangan dan diliput oleh berbagai media, karena memang unik. Di pelaminan aku berdiri didampingi oleh ketiga istriku. Kami mensepakati bahwa istri pertama adalah Murni, kedua Hani dan ketiga Denisa. Susunan di pelaminan juga unik karena seorang pria didampingi 3 mempelai wanita diikuti dengan 3 pasang orang tua perempuan.

Begitulah kisahku. Sebetulnya masih ingin lebih panjang lagi bercerita, tetapi nanti jadi berkepanjangan dan malah jadi melelahkan.

***

Cerita sex, cerita ngentot, cerita mesum dan cerita dewasa tante, sedarah, spg, daun muda, setengah baya, abg, remaja, pramugari, pembantu, bispak, mahasiswi, pelajar, lesbi dan banyak lagi lainya kategori cerita terbaru

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online